Dasar Alkitab Untuk Mendidik Anak

Dasar Alkitab Untuk Mendidik Anak

Oleh
J.Hampton Keathley III
Translated by Stevy

English http://www.bible.org/docs/splife/chrhome/corral/toc.htm

Pendahuluan:
Natur Umum dari Tugas

Proverbs 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu,” merupakan ayat dasar dari penyelidikan ini dan merupakan salah satu perintah Alkitab secara langsung kepada orangtua. Tapi apakah ada hal yang lebih menantang atau terhormat daripada tanggung jawab dan hak istimewa ini? Mendidik anak menurut jalan yang patut baginya selalu merupakan tugas yang besar dan penting disetiap generasi karena semua yang terlibat dalam proses membesarkan anak, tapi apakah ada masa dimana tantangan lebih besar dari saat ini? Perkembangan anak dan cara pandang tentang hidup merupakan hasil dari proses mendidik. Disitulah anak akan mengembangkan pemikiran mereka tentang Tuhan, manusia, diri mereka (pentingnya diri, sumber keamanan, tujuan dalam hidup), dan tentang lingkungan dan cara pandang dunianya. Tapi semakin jauh lingkungan keluar dari kebenaran Alkitab dan nilai, prioritas dan kepercayaannya, lebih sulit tugas kita mendidik anak. Ini sebagian disebabkan oleh pengaruh negative dan tekanan atas anak, tapi juga karena orangtua terlalu sering berpikir dan bertindak seperti lingkungan mereka. Mereka mengambil struktur kepercayaan dan hidup menurut nilai dan prioritas lingkungan itu. Dampaknya terhadap cara berpikir dan prilaku anak sangat besar dan dengan hanya melihat sekilas apa yang terjadi disekitar kita sudah menjelaskan semuanya. Apa yang dipercaya lingkungan akan selalu menentukan bagaimana itu hidup. Ada alirah budaya, dan aliran ini selalu ditemukan dalam pikiran orang. Seperti mendiang Francis Schaeffer menjelaskan:

Orang punya praanggapan, dan mereka akan hidup lebih konsisten atas dasar praanggapan ini lebih dari yang mereka sadari. Melalui praanggapan kita memnjalankan cara dasar seseorang melihat hidup, cara pandang dunianya, garis-garis peta dimana dia melihat dunia. Itulah praanggapan dimana seseorang melihat itu kebenaran dari yang ada. Praanggapan orang meletakan dasar semua yang mereka tunjukan didunia luar. Praanggapan juga menyediakan dasar nilai dan kemudian dasar keputusan mereka.

“Apa yang manusia pikir, itulah dia,” merupakan suatu yang mendasar. Seseorang bukan hanya produk kekuatan disekelilingnya. Dia memiliki pikiran, dunia dalam diri. Kemudian, setelah berpikir, seseorang bisa melakukan tindakan didunia luar dan kemudian mempengaruhinya.[1]

Praaggapan kita, yang menentukan cara pandang dunia kita, umumnya diambil dari keluarga. Tapi ada banyak kekuatan jahat yang sedang bekerja untuk mempengaruhi cara pandang dunia keluarga (baik orangtua dan anak) untuk menjauh dari kebenaran Tuhan saat itu dikembangkan pada kita dalam halaman Firman Tuhan.

Selagi menyiapkan makan malam, kita sering mengamati berita atau suatu pertunjukan pembicaraan terkenal, yang, tentu saja, menyediakan ilustrasi sehari-hari dari sudut pandang masyarakat yang sangat  tidak sesuai dengan Alkitab. Pokok pertunjukan hari ini adalah disiplin anak, maka saya terutama sekali tertarik akan apa yang akan dikatakannya. Tamu hari itu bergelar Ph.D. dibidang pengembangan anak ( ini memberikan seseorang otoritas) dan, tentu saja, kebanyakan dari pandangan nya membantah Alkitab. Penekanannya adalah bahwa disiplin phisik tentang segala hal adalah suatu tindakan kekerasan dan dengan begitu tidak efektif. Dan saya setuju, seperti halnya Alkitab, disiplin fisik bisa merupakan suatu tindakan kekerasan dan merusak seorang anak baik secara phisik dan secara emosional. Tetapi ini bukan disiplin phisik dalam Alkitab. Pada] program itu ada sekelompok ibu yang memukul anak-anak mereka, tetapi apa yang saya ingin sampaikan adalah tentang komentar salah satu dari para ibu itu dan reaksi pemandu. Dibawa tekanan untuk menjaga popularitas pertunjukan ini. Ibu itu dengan berani berkata bahwa dia berniat untuk menggunakan tamparan di pantat sebagai format disiplin sebab Alkitab mengajar nya untuk melakukannya. Ahli itu dengan cepat menjawab ketus bahwa Alkitab tidaklah selalu benar, karena mengajar perbudakan dan perbudakan yang jelas sudah salah!

 

Apa yang sedang berlangsung di sini? Ini adalah suatu ilustrasi tentang pengaruh yang bertentangan dengan otoritas Alkitab. Sudut pandang laki-laki yang tinggi dalam Alkitab, dalam hal ini dengan datar ditolak dan ditertawakan. Pertunjukan] populer ini dilihat diseluruh negeri ini, tetapi itu hanyalah satu  peristiwa dan suatu pengecualian. Melainkan, itu merupakan kenyataan dihampir tiap-tiap segi kehidupan ( secara politis, melalui pendidikan, media, Hollywood, dll.). Amat sayang, bahkan sebagian besar gereja telah memilih untuk sudut pandang manusia] bukannya Alkitab. Rasul Paul memperingatkan kita terhadap permasalahan untuk tidak jadi sama dengan dunia (pandangan nya, struktur kepercayaan dan nilai-nilai), tapi diubah oleh pembaharuan pikiran kita melalui FirmanNya ( Rom. 12:2).

Di mana orang tua Kristen pergi ketika mereka ingin informasi tentang pelatihan anak? Menurut pengalaman saya, mereka sering ketoko buku Kristen untuk buku tentang pelatihan anak.

Sangat disayangkan, kesempatan mereka mendapatkan petunjuk injil sangat kecil dan lebih banyak sudut pandang pop-psychology manusianya daripada Alkitab. Tampaknya orang tua tidak lagi berbalik ke Alkitab dan mempelajarinya secara hati-hati dan dengan berdoa. Banyak orang tua tidak memiliki pengetahuan tentang berapa banyak Tuhan telah berbicara tentang hal ini, atau mereka memang mengabaikannya, atau hanya menolak itu karena dirasa sudah ketinggalan jaman.

Tetapi pikir sebentar tentang kondisi-kondisi moral masyarakat kita sekarang dimana kejahatan, obat/racun, kekerasan didalam keluarga-keluarga (penyalahgunaan isteri, anak-anak, dan ya, bahkan suami), pornografi, mentalitas anti otoritas, penipuan dan ketiadaan integritas dan perbuatan memalukan di antara para pemimpin bangsa kita, dan daftarnya masih panjang. Tapi tigapuluh tahun yang lalu, dimana kejahatan, obat/racun, penyalahgunaan, dll., kondisi-kondisi kemudian dan tahun yang lalu tidak sebanding dengan sekarang.

Apa yang telah menciptakan perbedaan itu dan kemunduran yang kita lihat hari ini? Sesungguhnya, ada banyak faktor, tetapi faktor yang utama adalah cara bangsa ini telah berbalik dari Alkitab. Awal enampuluhan doa telah dilarang disekolah. Kemudian ditetapkan bahwa menunjukan salinan Sepuluh Perintah di sekolah merupakan pelanggaran hukum. Dan pengguguran telah dibuat sah dengan undang-undang. Tetapi dengan sama pentingnya- keluarga tetap utuh. Orang tua masih berakal sehat dan hidup dari prinsip pelatihan anak berdasarkan Alkitab sebab itulah yang diperagakan ketika mereka tumbuh dewasa. Mereka percaya di dalamnya sekalipun mereka tidak pernah belajar hal ini secara pribadi.

Hari ini, masyarakat kita menyebut pendekatan itu sudah ketinggalan zaman; kita kata Alkitab salah dan kita lebih baik. Sudut pandang yang  menolak Alkitab bersumber dari humanisme secular. Humanisme Secular adalah otonomi ( sumber nya ada didalam logika pemikiran manusia), pemujaan ( manusia memuja manusia ), dan secular ( manusia tidak lebih dari binatang, tidak memerlukan Tuhan). Bagaimanapun, Kitab injil mengajar kita bahwa ketika manusia melakukan ini, Tuhan memutar masyarakat ini kepada kesia-siaan (sudut pandang manusia). Ini selalu mengakibatkan gangguan kerohaniaan dan moral ( Rom. 1:18-32). Suatu pertanyaan penting apakah mendahulukan cara manusia dari cara Tuhan akan lebih baik? Bukti dengan sendirinya sudah jelas. orang-orang Roma 1:21 menguraikan jalan manusia adalah ” sia-sia.” Kata Yunani yang diterjemahkan ” sia-sia” ( mataiow) mengacu pada apa akhirnya sia-sia atau tidak punya hasil bermanfaat; tanpa kapasitas untuk menyampaikan apa dijanjikan.

Proverbs 14:12 berkata, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (NIV). Setiap hari kita melihat hasil akhir cara humanistic bangsa kita dalam masyarakat kita—kehancuran moral dalam masyarakat, terutama dalam keluarga. Proverbs 29:18 berkata, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum” (NIV). Setelah menolak Alkitab,  rahasia diilhami Tuhan, sebagai otoritas yang benar, kita menyingkirkan pengekangan Alkitab lainnya. Ini bukanlah pengekangan untuk merugikan dan merintangi, tetapi untuk memberkati dan mengijinkan manusia untuk melakukan tujuan penciptaannya. Suatu kereta menyediakan suatu ilustrasi baik bahwa dia hanya mampu memenuhi tujuannya sepanjang terus tinggal dalam relnya.

Pelatihan Anak selalu merupakan hal serius, tetapi mengingat bahwa pengaruh dan kuasa-kuasa yang ada didalam dunia kita sekarang, hal ini telah menjadi suatu tugas kolosal. Tapi itu bukanlah sesuatu yang mustahil, sebab kita mempunyai Tuhan yang tidak hanya mengungkapkan Dirinya kepada kita didalam Kitab injil dan dalam pribadi Kristus, Putra Tuhan, tetapi Ia telah memberi kita janji khusus untuk pelatihan dan pemeliharaan anak-anak kita. Pertanyaannya, ” Akan kita mengikutinya?”

Mengingat iklim masyarakat kita, sebagian dari pembahasan pelajaran ini akan berlawanan dengan kecenderungan sekarang tentang pelatihan anak dan psikologi anak. Dengan kondisi masyarakat kita, itu sudah pasti. Tapi, percaya Alkitab dari Tuhan, material studi ini didasarkan pada eksposisi ayat kunci Alkitab yang detil untuk kita tentang apa kata Tuhan mengenai peningkatan dan pelatihan anak-anak. Mereka yang tidak punya percaya Alkitab akan menolak hal ini “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” (1 Cor. 2:14). Walau hal ini sudah berdasar Alkitab, percaya itu diinspirasi Tuhan, saya merasa pasti beberapa orang Kristen akan tidak setuju dengan posisi yang diperkenalkan di sini sedikitnya dalam beberapa area. Apakah ini adalah suatu hasil pengaruh masyarakat atas pemikiran mereka atau karena saya belum menangani teks itu dengan baik, terserah individu untuk menilai berdasar pada bukti (see Acts 17:11). Bagaimanapun, tujuan saya adalah untuk membantu keluarga-keluarga dengan membagikan apa yang Alkitab ajarkan. Dalam kerangka ini, saya menyarankan tiga kualitas yang diperlukan di sini seperti dalam penyelidikan Alkitab manapun:

(1) Bisa Diajar. Kita semu jadi orantua dengan membawa praanggapan dan kita sering tidak mau melepaskannya. Tuhan ingin mengajarkan kebenaranNya, “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh’” (Isa. 48:17). Kebutuhan kita, seperti doa Pemazmur, “Perlakukanlah hamba-Mu sesuai dengan kasih setia-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku” (Ps. 119:124).

(2) Bisa Dipelajari. Kebutuhan lain adalah mempelajari Alkitab dengan serius. Alkitab punya banyak hal tentang keluarga dan orangtua. Pertanyaannya adalah apakah kita mau membangun keluarga melalui penyelidikan FirmanNya? Mungkin seperti orang Bereans (Acts 17:11) menyelidiki Alkitab dan terbuka akan kebenarannya “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim. 3:16-17).

(3) Diperhatikan. Jika keluarga adalah laboratorium Tuhan untuk membangun karakter didalam hidup anak-anak kita, tentu saja, tempat di mana dia hidup membentuk pikirannya, dan jika rumah adalah fondasi ke masyarakat, dan kedua hal ini benar, kita dapat pastikan bahwa Setan akan melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mengikis keluarga. Kita memerlukan,  kesiagaan akan rencana dan metodanya. Beberapa ayat terlintas. Kita harus mengetahui kebenaran Tuhan dan untuk berhati-hati “. . . sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (Eph. 4:14). Dan kepada jemaat Kolose Paulus menulis, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”

Solusi Tuhan

Kandang Pelatihan

Salah satu dari kegembiraan terbesarku sebagai anak muda yang bertumbuh pada suatu peternakan kecil di Texas  adalah mengendarai dan  melatih kuda untuk terkekang sehingga mereka selalu di bawah kendali pengendara apakah mengeluarkan anak sapi dari suatusaluran atau mengatur lembu di suatu kandang atau suatu padang rumput terbuka. Kita mencintai semua kuda kita, tetapi yang terlatih memberi kegembiraan yang terbesar dan yang sangat berharga. Tetapi untuk melatih mereka diperlukan waktu yang lama, cinta, kesabaran, dan pekerjaan. Sebagian besar pelatihan diawal mengambil tempat didalam suatu kandang sebab suatu kuda muda secara otomatis mengetahui kalau dia ada dibawah suatu pengekangan tertentu. Memperoleh pengendalian dan perhatian kuda didalam suatu kandang suatu hal yang lebih mudah karena dia tidak punya tempat lain lagi. Jika dilakukan ditempat terbuka merupakan masalah lain, karena disana kuda suka berlari dan mudah terganggu. Sekali kendali tertentu, telah dibangun melalui pelatihan, hal jadi sangat berbeda. Oleh karena itu, kita selalu mempunyai kandang yang digunakan semata untuk pelatihan kuda. Lalu apa itu kandang? Itu merupakan suatu tempat pengurungan dan pengekangan,  penggunaan  utamanya untuk tujuan pelatihan.

Satu kuda yang saya latih dalam kandang seperti itu adalah suatu kuda sorrel quarter bernama Dolly. Dia akan berhenti untuk sepersepuluh dollar dan meninggalkan satu nikel. Saya bisa membawanya kemanapun dan tahu kalau dia akan sopan. Dia begitu taat sehingga rodeo atau kontes menjadi suatu yang menyenangkan. Saya bisa tetap tenang sebab saya bisa mengharapkan Dolly untuk mematuhi dan melakukan apa yang diperintahkan. Sesungguhnya, orang-orang mengenalnya oleh karena ketaatannya dan sering mengagumi seberapa baik dia dilatih.

Alkitab mengajar kita sebagai orang tua untuk mempunyai suatu kandang pelatihan untuk anak-anak mereka, bukan dibuat dari papan dan tonggak, tetapi dibangun dari material Tuhan. Material ini terdiri dari prinsip dan ajaran Alkitab , ketika dibawa bersama-sama, seperti sisi suatu kandang, menghasilkan suatu lingkungan untuk anak-anak yang tidak hanya memenuhi tentang perintah tertulis Alkitab tetapi menunjukan ketaatan  dan memberi orang tua banyak istirahat dan kepuasan. Saya mengingatkan perkataan Amsal, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Prov. 29:17).

Alkitab, berwibawa dan diilhami Tuhan, mempunyai banyak hal  tentang orangtua, rumah, dan anak-anak. Sebagai contoh:

(1) Psalm 128:1-4 mengajar bahwa anak adalah karunia dari Tuhan; mereka adalah berkat dan kepercayaan dari Tuhan. Tapi Psalm 127:3‑5 memperingatkan mengenai hal ini, orang tua harus mengijinkan Tuhan untuk membangun keluarga yang meliputi pelatihan  anak-anak kita. Jika Tuhan diijinkan untuk membangun keluarga, kita harus menggunakan Materialnya, Perkakas, dan mengikuti Cetakbirunya. Kita harus membangun Kandang PelatihanNya.

(2) Amsal berkata, kita harus mendidik anak kita dijalan yang seharusnya (Prov. 22:6). Artinya mengarahkan anak-anak untuk masuk jalur yang benar. Tetapi apa yang merupakan arah atau jalan yang benar dan bagaimana cara orangtua melakukan ini, terutama dimasa sulit ini?

(3) Alkitab juga mengajar orang tua untuk  mendidik anak-anak mereka (memelihara mereka) dalam disiplin (pelatihan) dan instruksi (peringatan) tentang Tuhan ( Eph. 6:4). Tuhan melatih anak-anak didalam JalanNya melaluiorang tua. Sebagai orang tua, kita adalah agen pelatihan untuk Tuhan.

(4) Para bapak, oleh karena itu,  mengendalikan anak-anak dengan  martabat ( 1 Tim. 3:4). Mengapa? Sebab anak-anak dilahirkan tanpa kendali. Suatu ilustrasi yang baik tentang ketiadaan kendali adalah kebutuhan akan popok. Kedudukan sebagai orang tua, oleh karena itu, berarti hak otoritas dan tanggung jawab mengendalikan anak-anak mereka menurut standard dan nilai-nilai Alkitab, tetapi tujuannya adalah untuk membawa anak di bawah kendali Tuhan melalui suatu hubungan denganNya.

Anak-anak adalah hadiah, stewardships, dari  Tuhan dan   untuk dikembalikan ke Tuhan melalui proses pelatihan atau disiplin berdasarkan Alkitab. Disiplin berdasarkan Alkitab tidaklah sewenang-wenang, tetapi  untuk didasarkan pada prinsip yang diperoleh dari Alkitab.

Seperti yang akan ditunjukkan studi ini, disiplin berdasarkan Alkitab didasarkan pada kebenaran otoritas dan pengabdian selaku bawahan. Tuhan memberi otoritas ini ke orang tua, tetapi orang tua akhirnya harus dipertanggungjawabkan ke Tuhan baik tanggung jawab untuk disiplin dan untuk cara dan metoda disiplin. Fakta ini jelas dalam Ephesians 6:4.

Ephesians 6:4 mempunyai dua kata yang menguraikan tanggung-jawab dan metoda yang penting dalam pemeliharaan anak. ” Disiplin” ( Nasb) Atau ” Pelatihan” ( Niv)  Yunaninya paideia dari modal, ” anak.” menurut penggunaan kata ini ada dua gagasan mengenai disiplin Alkitab: ( a) instruksi atau pendidikan dan ( b) koreksi atau disiplin sebagai tongkat atau beberapa bentuk kendali koreksi. Ini terutama dapat digunakan untuk anak yang lebih kecil. ” Instruksi” Yunaninya nouqesia dari nous, ” pikiran” dan tiqhmi, ” untuk menaruh, menempatkan.” Menurut penggunaan kata ini, melibatkan gagasan untuk pemikiran, nasehat, peringatan, dan teguran ramah atau lembut. Itu lebih sesuai kepada anak yang lebih tua ketika ia mempunyai pemahaman rohani yang lebih baik dan isu moral, terutama sekali perilaku dan sifat alaminya.

Anak-Anak muda, berumur tujuh dan delapan keatas, sering tidak mampu untuk menyerap konsep kerohanian didalam banyak masalah yang mereka menghadapi. Pada zaman ini, mereka jadilah lebih diorientasikan ke stimulus-response atau pleasure-pain mekanisme. Anak-Anak muda menghubungkan benar dan salah sebagai hasil dari tindakan mereka daripada  pertimbangan rohani. Ketika mereka dewasa, anak-anak berkembang dalam kesadaran moral pribadi; mereka secara pribadi lebih bertanggung jawab ( mampu menjawab dengan suatu cara yang bijaksana) dan, mereka juga menjadi lebih bertanggung jawab untuk tindakan mereka.[2]

Prinsip Otoritas

Hak Otoritas

Sebagai Pencipta yang berdaulat atas alam semesta dan yang  mendirikan institusi perkawinan dan keluarga, Tuhan telah menempatkan anak-anak di bawah otoritas orang tua mereka. Ini  jelas fakta bahwa berulang kali Tuhan menunjuk orang tua dan memberi mereka tanggung jawab untuk pelatihan anak-anak mereka, bukan status( cf. Deut. 6:7-9; Eph. 6:1; Col. 3:20). Otoritas orangtua, adalah suatu yang pemberian wewenang berarti orang tua tidaklah cuma-cuma  melakukannya atas anak-anak sesuka mereka. Akhirnya, otoritas kita sebagai orang tua adalah otoritas Tuhan. Anak-anak adalah pelayanan dari Tuhan, berkat yang Ia telah berikan kepada orang tua untuk mengaturnya untuk Tuhan. Tetapi untuk menjadi pelayan yang baik, orang tua harus mendidik anak-anak mereka menurut otoritas dan petunjuk Tuhan agar anak-anak mengenali Tuhan dan mematuhi dan bertindak seperti anak-anak Tuhan. Tujuan kita untuk mengajar mereka kepatuhan sebagai suatu ketaatan kepada Tuhan, ini berarti orangtua dirancang demi Allah untuk  ditaati ( Eph. 6:1f).

Sebagai orang tua, kita dibawah Tuhan; kita hanya mewakili otoritas Tuhan dan melakukannya seturut Standardnya. Kita tidak pernah untuk seenaknya menetapkan apa yang benar dan salah berdasarkan pendapat kita atau menurut masyarakat kecuali jika standard itu didasarkan pada Kata Tuhan. Pekerjaan orangtua adalah untuk menyatakan Kata Tuhan tentang apa yang benar dan salah dan menyatakannya dalam hidup mereka dan dalam hidup anak-anak mereka. Ketika ini tidak jadi masalah, orang tua  sedang bertindak sebagai pemberontakan atas diri mereka dan merusak, dengan contoh negatif, stewardship Tuhan yang telah dipercayakan kepada mereka. Ini secara alami memimpin ke hal berikutnya.

Makna Otoritas

Otoritas berarti pendelegasian hak-hak untuk mengatur atau memimpin. Ini berarti kuasa untuk bertindak, memutuskan, memerintahkan, dan menilai; hak untuk menentukan kebijakan dan tanggung jawab untuk menentukan kendali dalam hidup anak-anak dalam batas otoritas yang diberi Allah. Tuhan mempunyai kemutlakan otoritas dan hak Pencipta yang berdaulat ( P. 47:2; 103:19; 115:3; Dan. 4:34b; Rom. 9:20b-21). Ada suatu pelajaran penting di sini. Bahkan kendali dan otoritas Tuhan tidak pernah sewenang-wenang sebab [itu] didasarkan pada Kebaikan dan KebajikanNya yang sempurna; itu selalu untuk yang kebaikan dan berkat bagi orang-orang. Sebagai contoh, perintah dari Tuhan tidaklah dirancang untuk menyingkirkan kesenangan kita dan hidup buatan yang menyedihkan. Melainkan, mereka dirancang untuk  meningkatkan kapasitas kita untuk memberkati. Ini sesuai dengan karakter Tuhan yang kudus sempurna. Ini meliputi keadilan dan kebajikan sempurna Tuhan. Yang tidak bisa dipisahkan dengan semua ini adalah kebaikan Tuhan sebagai Penolong kasih kita. Sebagai suatu ilustrasi, ketika anak-anak kita masih muda kita memberi mereka sepeda roda tiga saat mereka cukup tua untuk mengendarainya, tetapi kita yang menetapkan aturan: mereka tidak bisa mengendarai sepeda roda tiga mereka dijalan mobil atau diatas trotoar kakilima tetapi di jalan. Aturan yang membatasi mereka keluar dari cinta dan tanggung jawab sebagai orangtua, tetapi tujuannya adalah untuk menjaga mereka untuk tidak digilas mobil.

Prinsip Kontrol

Masalah Pemberontakan

Kenapa orang tua memerlukan kendali? Kendali diperlukan oleh karena ketidak dewasaan dan kebodohan anak-anak, tetapi juga oleh karena kecenderungan yang alami untuk pemberontakan. Oleh karena kejatuhan manusia, pemberontakan tidak bisa dipisahkan dalam kita. Sesungguhnya, kata-kata perlawanan, suka menentang, dan lain lain muncul 170 kali didalam NIV, 131 NASB, dan 143 NRSV. Sebelum kita memperhatikan beberapa prinsip mengenai pemberontakan, kendali, dan otoritas, mari kita mencatat beberapa sajak/ayat pada tentang isu ini:

Proverbs 29:15 reads, “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” Kenapa? Karena dalam pemberontakannya, anak-anak mencerminkan kurangnya disiplin orangtua.[3] 1 Samuel 15:23 reads, “Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.” Dengan adanya pemberontakan dan kebutuhan control Tuhan merupakan salah satu kualifikasi penatua yaitu “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya” (1 Tim. 3:4).

Berkaitan dengan Permasalahan pemberontakan dan penentangan adalah, fakta Setan, biang pemberontak, dan dosa manusia. Kendali diperlukan oleh karena permasalahan pemberontakan yang tidak bisa dipisahkan dari keberdosaan manusia melalui kejatuhan ( Gen. 5:3; Rom. 5:12). Jika tidak ada pemberontakan, tidak usah untuk berlatih kendali. Tetapi pemberontakan adalah kenyataan yang harus dihadapi. Anak-Anak dilahirkan secara alami suka menentang dan mereka mendapatkannya dari orang tua mereka ( Ps. 51:5; 58:3; Prov. 29:15).

Tuhan telah mendirikan,tetapkan institusi otoritas ( rantai komando) seperti pemerintah dan keluarga untuk perlindungan masyarakat. Institusi ini dirancang untuk mewakili otoritas Tuhan di dalam batasan-batasan tertentu atau menentukan batas dalam rangka mengendalikan kecenderungan yang alami didalam manusia untuk memanfaatkan dan merugikan orang lain ( Rom. 13:1f; Eph. 5:22f; 6:1f; Heb. 13:7, 17). Tujuan otoritas ini adalah untuk membawa kendali sebagai rintangan bagi pemberontakan terbuka. Batas ini meliputi: ( a) mereka yang ada di bawah otoritas tertentu , dan ( b) tingkat dan cara di mana mereka melakukan otoritas ini.

Rantai institusi atau perintah otoritas ini adalah payung perlindungan Tuhan dan instrumen untuk administrasi yang rapi dari RencanaNya untuk ras manusia. Maksudnya adalah: Otoritas kita sebagai orangtua adalah cara Tuhan melindungi anak-anak; itu menjadi bagian dari PayungNya.

Apa yang  adalah sebagian dari area otoritas ini di mana pemberontakan boleh terjadi dalam hidup?

  • Tuhan atas Malaikat dan manusia
  • Pemerintah dengan warganegara
  • Suami dengan isteri
  • Orang tua dengan anak-anak
  • Penatua dengan domba
  • Sesama orang percaya (Saling taat)
  • Para guru dengan para siswa
  • Orang percaya atas setan
  • Manusia dengan ciptaan

Secara alami, Setan, yang pertama dan pemimpin pemberontakan, melawan rencana dan otoritas Tuhan dan secara konstan menyerang institusi ini untuk menciptakan pemberontakan. Penting bahwa ular ( Setan dalam penyamaran)mendekati Hawa, bukan Adam dimana Tuhan telah beri tanggung jawab kepemimpinan. Ini jelas Adam telah diciptakan pertama dan Hawa ( berlawanan dengan pria dan binatang betina) diciptakan dari dia ( cf. 1 Tim. 2:13; 1 Cor. 11:8ff). Setelah Adam dan Hawa makan buah terlarang, alasan pertama yang Tuhan beri kepada Adam untuk pertimbangan adalah kepasifannya sebagai pemimpin. Adam telah mendengarkan isterinya. Ini adalah suatu gangguan dalam rantai kepemimpinan. Setan bekerja terus untuk menyebabkan suatu penyalah gunaan otoritas ( dominasi, kekejaman) dan untuk menyebabkan pemberontakan bahkan ketika ada kepemimpinan penuh kasih dan saleh dalam semua institusi otoritas.

Ketika itu datang ke pemberontakan, ada dua format yang terjadi dalam anak-anak:

Pemberontakan Aktif

Pemberontakan aktip adalah ketika seorang anak tidak akan mendengarkan atau menerima instruksi orangtuanya. Pemberontakan aktif dinyatakan melalui:

(1) Saat seorang anak melemparkan kemarahan, menjawab dengan menantang “ Tidak!” atau menentang dengan berjalan pergi selagi orangtua masih bicara dengan dia.

(2) Saat seorang anak lanjut bermain atau pusat perhatiannya menjauh dari ibu atau bapak atau kakek ketika mereka  sedang bicara dengan dia atau memberi dia instruksi. Dalam kasus ini ia juga menyatakan pemberontakan.

(3) Saat seorang anak tidak menerima koreksi. Ini jelas ketika ia membantah ibu atau bapak, menyalahkannya pada orang lain, atau mencibir sebagai ganti mengakui rasa bersalahnya.

Pemberontakan Pasif

Pemberontakan pasif dipertunjukkan ketika anak-anak memenuhi kebutuhan eksternal untuk ketaatan, tetapi secara internal kecewa, yaitu., duduk tenang diluar, tetapi berdiri didalam.

(1) Pemberontakan pasif dirahasiakan, tetapi akan secepatnya muncul dipermukaan didalam guratan ekspresi sikap acuh tak acuh mereka, menjijikkan, marah, atau kurang hormat.

(2) Pemberontakan pasif dinyatakan oleh anak yang dengan sopan mendengarkan instruksi, tetapi yang secara konsisten gagal mengikutinya tanpa peringatan, ancaman, atau tekanan. Tentu saja, pada anak-anak lebih muda, kegagalan merupakan hasil dari perhatian singkat. Mereka berniat dan ingin mematuhi, tetapi menjadi disibukan oleh hal lain dan memerlukan suatu peringatan orangtua dan pengawasan.

(3) Salah satu bentuk pemberontakan pasif adalah lakukan apa yang diperlukan, tetapi bukan didalam cara yang seharusnya itu dilaksanakan atau dengan sikap yang benar. Seperti yang akan ditekankan kemudian, sikap sama pentingnya dalam tindakan ketaatan. Sikap tidak baik menyatakan diri mereka didalam tindakan penentangan atau pemberontakan terbuka.

(4) Jika pemberontakan tidak diatasi, pemberontakan pasif akan mengakibatkan revolusi untuk merobohkan otoritas.

Lalu apa itu kontrol? Itu adalah kuasa atau kemampuan untuk mengatur atau memandu. Ini berarti untuk menahan, mengendalikan, atau mengandangi. Tetapi tujuannya selalu untuk menyatakan ketaatan sebagai pengganti pemberontakan.

Hubungan Otoritas dan Kontrol

Kita dapat menangani masalahnya jika kita melihat hubungan antara otoritas dan kontrol.

( 1) Otoritas berarti tanggung jawab dan hak-hak untuk langsung dan menyebabkan orang lain mengikuti arah. Ini artinya tanggung jawab dan hak, sebagaimana diperlukan, untuk menyatakan kuasa mengendalikan, menahan, atau mengkandangkan, yaitu., kuasa untuk menggunakan otoritas seseorang untuk membawa tekanan pada seseorang agar tidak keluar jalur atau lepas kendali tersebut dalam Amsal 29:15.

 

( 2) Otoritas berarti tanggung jawab dan hak-hak untuk menetapkan standard yang menjadi ukuran atau test untuk membawa kendali. Diberi hak oleh Allah, orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kendali didalam anak-anak yang dilahirkan tanpa kendali dan yang secara alami suka menentang, tersesat sejak kelahiran ( Propinsi. 29:15; P. 58:3). Seperti, kebutuhan popok bayi menyediakan suatu ilustrasi yang baik. Bayi harus mempunyai kendali eksternal ( popok) sampai kendali internal berkembang ( pelatihan ke kamar kecil). Saat orang tua gagal untuk mengendalikan dan kemudian melatih anak-anak mereka didalam berbagai area hidup, itu dapat diperbandingkan dengan kegagalan untuk menggunakan diapers dan tidak pernah melatih anak mereka ke kamar kecil. Apakah anda ingin menghadapi konsekwensi anak yang tidak berpopok dan tidak bisa kekamar kecil dalam rumahmu? Tentu saja tidak! Tetapi didalam hal lain, orang tua gagal untuk menetapkan kendali yang mempunyai konsekwensi merugikan diri sendiri, anggota keluarga lain, anak-anak mereka, dan orang lain didalam masyarakat. Pada pokoknya, permasalahan yang kita hadapi di sekolah merupakan masalah yang berkaitan dengan orangtua.

Prinsip Pemeliharaan
(Didiklah Anakmu)

Definisi Pemeliharaan

Pemeliharaan mengacu pada lingkungan dimana anak-anak dibesarkan dan itu bersama-sama, seperti suatu gerbang kandang, semua sisinya dan ramuan untuk kandang pelatihan.

Didalam Ephesians 6:4, kata-kata, “ mendidik,” dari kata Yunani ektrefw yang berarti, “ untuk memelihara, menyediakan dengan penuh perhatian pemeliharaan, memberi makan, atau melatih.” Dengan kata lain kita ada untuk menyediakan kepedulian yang akan menghasilkan pengembangan dan pertumbuhan yang sehat. Tentu saja, konteksnya berhubungan dengan kerohanian dan pengembangan moral yang mengalir keluar suatu hubungan dengan Tuhan, berjalan di bawah kendali Tuhan, tetapi itu adalah buah kasih dari orang tua yang didalam Tuhan.

Harapan Pemeliharaan

Ketika kita menyediakan pemeliharaan yang jenis yang benar, saat kita menggunakan kandang pelatihan Tuhan, kita dapat dan mengharapkan anak-anak yang bahagia dan taat. Banyak orang tua sudah puas dengan hanya menerima ketaatan, tetapi ketaatan dan bahagia harus merupakan tujuannya. Ketaatan dan bahagia bukanlah harapan yang berlebihan. Catat ayat di atas seperti Mazmur 100:2, “ melayani Tuhan dengan kegembiraan,” dan Colossians, “ dengan gembira berterima kasih kepada Bapa.”

Didalam bukunya, Kamu dan Anak Mu, Charles R. Swindoll mempunyai suatu komentar sempurna mengenai sikap. Ia menulis,

Kita hadapi dengan sungguh-sungguh sikap didalam rumah seperti saat kita lakukan terhadap tindakan. Suatu sikap keras kepala merengut dihadapi secara serius seperti melakukan tindakan mencuri. Cara] anda berhadapan dengan para putra anda akan, sebagian besar, menentukan bagaimana mereka akan bereaksi terhadap cara Tuhan berhubungan dengan mereka.[4]

Suatu ilustrasi: Ibu dan Jimmy kecil ada didalam supermarket dan Jimmy kecil melihat gula-gula ( pembuat rongga) di gerbang keluar:

Jimmy kecil: “ Ibu, aku ingin gula-gula.”

Ibu: “ Tidak sayang, tidak hari ini.

Jimmy kecil: “ Tetapi mengapa? aku ingin gula-gula. Aku lapar.”

Ibu: “ Itu terlalu dekat dengan makan malam dan kamu sudah makan cukup banyak gula-gula hari ini.”

Jimmy kecil: “ Tetapi aku ingin gula-gula, aku INGIN gula-gula…”

Ibu: “ Tidak Jimmy, sekarang kita pulang. Apakah kamu dengar?”

Dan demikianlah pertempuran itu. Jimmy kecil mulai berbaring di lantai menangis dan menendangan kakinya, atau ia akan tetap merebut segenggam penuh gula-gula. Akhirnya, didalam keputus-asaan dan karena orang-orang sedang melihat, ibunya berkata, “ Aduh baik, sudah ambil sedikit gula-gula, tetapi mari, ibu sedang terburu-buru.” Jimmy kecil telah memanipulasi ibunya. Ia belum dibuat mengerti, apalagi ketaatan dan bahagia. Ia juga telah mempelajari bahwa jika ia membuat suatu peristiwa didepan publik, ia pasti berhasil.

Tidak setiap orangtua akan bertindak dengan cara yang sama terhadap sikap keras kepala seperti itu, maka anak-anak dengan cepat belajar apa yang diperlukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Beberapa akan mencibir dan melolong; orang lain boleh tidur meringkuk dan memaki mata mereka, tetapi jika orangtua menyerah hasilnya sama saja. Dalam hal apapun, anak-anak ini tidaklah belajar ketaatan dan bahagia, tunduk pada otoritas, maupun rasa hormat atau penghormatan untuk apa yang benar. Sebagai gantinya mereka  sedang belajar untuk menurut pada kemauan  mereka sendiri  dan untuk bertindak menurut kepentingan sendiri dan tidak hormat pada berbagai keinginan dan kebijaksanaan orangtua mereka.

Sebab penentangan anak-anak kecil dapat terlihat lucu( sedikitnya kepada kakek dan nenek dan orang tua mereka) kecenderungan adalah untuk tertawa dan berkata, “ bukankah dia lucu?” atau “ lihat dia memang pengacau?” Tetapi ketika kita lakukan ini (dan say temukan godaan ini lebih besar saat ini seperti saya sudah ke-delapan kali jadi kakek), kita  sedang membantu menguatkan penentangan. Orang tua harus menaikkan tingkatan harapan mereka dan harapkan ketaatan tetapi dengan suatu wajah bahagia.

Roy Lessin menceritakan cerita ini.

Satu sore kita mengunjungi para teman untuk makan malam. Sesudah makan malam anak-anak melarikan diri untuk main dan kita orang tua mengunjungi ruang tamu . Segera waktu untuk pulang, maka saya memohon dan mengatakan kepada anak-anak bahwa sudah waktunya untuk pergi. “ Baik ayah,” datang jawaban yang cepat. Dan dalam beberapa detik kedua anak itu ada diruang tamu siap dengan mantel terpasang.

“lihat itu,” teman saya berseru kepada isterinya. “ Ya, aku lihat, itu mengagumkan,” dia menjawab.

“ Apa yang mengagumkan,” ia bertanya.

“ Anakmu,” teman menjawab. “ Saat kamu berkata sudah waktunya untuk pergi mereka mematuhi tanpa suatu percekcokan.”[5]

Apa yang para teman ini lihat sebagai hal yang mengagumkan, juga diharapkan para ayah yang lain. Ini adalah perilaku normal sebab ayah ini menggunakan kandang pelatihan Tuhan.

Tuhan ingin anak-anak untuk bahagia. Kebahagiaan menjadi bagian dari berkat Tuhan untuk anak-anak. Tuhan juga ingin anak-anak untuk taat. Ini adalah aturan dan rencana Tuhan, dan penting menyadari bahwa anak-anak durhaka tidak pernah sungguh-sungguh bahagia. Kedua hal ini saling berkaitan. Ketaatan dan bahagia meliputi sikap bahagia dan tindakan taat.

Unsur-unsur Pemeliharaan

Proverbs 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu .

Ephesians 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Pemeliharaan atau Pelatihan seperti apa  menyediakan ramuan yang, ketika dibawa bersama-sama bertindak seperti suatu kandang untuk menahan, mengendalikan, dan melatih anak-anak sehingga mereka dengan penuh kegembiraan mematuhi? Alkitab janjikan dan mengajar kalau anak-anak itu bisa merupakan suatu berkat. Orang tua tidak perlu menunggu didalam kekhawatiran dan takut untuk mengantisipasi ‘tahun-tahun remaja yang mengerikan.’ Tetapi mereka juga tidak bisa menunggu sampai tahun remaja itu untuk menerapkan prinsip kandang pelatihan. Lalu apa ramuan Alkitab untuk membuat kandang pelatihan Tuhan? Meskipun masing-masing akan dibahas dalam materi berikut, kandang pelatihan Tuhan berisi lima sisi penting: mencintai (konteks yang terpenting), instruksi (isi yang penting), dedikasi (tentang orangtua dan anak), disiplin (dalam kata-kata dan tindakan), dan contoh (kenyataan berkenaan dengan orangtua).

 

Mari mencatat beberapa ayat kunci:

( 1) Pepatah 29:17 Koreksi putra mu, dan ia akan memberimu penghiburan, Ia akan juga menggembirakan jiwa mu.

“ Benar” adalah kata Ibrani yasar, yang berarti “ untuk memperingatkan, disiplin, instruksikan.” Itu adalah koreksi dalam wujud nasihat, disiplin, atau instruksi yang mengakibatkan pendidikan, pemahaman yang benar. Seperti yang digunakan dalam PL, kata ini menyatakan menghukum untuk kebaikan, mengoreksi, instruksikan, dan menyediakan semua yang penting bagi pelatihan anak-anak. Hanyalah semua gagasan ini diharapkan untuk diungkapan dalam hubungan antar pribadi dengan cinta dan kepedulian. Kata ini digunakan untuk menunjukan kepedulian penuh kasih Tuhan dengan Israel dan tentang seorang bapak dengan putranya ( cf. Deut. 8:1-5).[6] Janji yang umum diberi Tuhan dalam mengoreksi seorang anak adalah kenyamanan, ketenangan, dan sukacita. Untuk “ koreksi” adalah untuk menerapkan kandang pelatihan itu.

( 2) Pepatah 19:18 Diplin putramu selagi ada harapan, Dan tidak menginginkan kematiannya.

Suatu terjemahan lebih baik adalah “ sebab ada harapan” atau “ harapan yang pasti.” Bandingkan Kis 11:18 dan 14:7 di mana kita mempunyai konstruksi yang sungguh sama, tetapi itu diterjemahkan, “ sebab ada harapan.”

“ Ada” didalam Ibrani mengacu pada gagasan keberadaan absolut. Tuhan sedang mengatakan pada kita kalau ini adalah suatu kemutlakan perkataan Tuhan untuk dipercaya dan diterapkan. Ini adalah suatu janji, tidak hanya peringatan.

“ Dan tidak menginginkan kematian nya” secara harafiah “ tetapi bagi kematian nya tidak menyenangkan jiwa mu.” Dengan anak kalimat/ketentuan kedua ini , kita mempunyai suatu permasalahan dalam penafsiran. Ada dua pandangan yang mungkin: ( a) Itu menyediakan suatu peringatan spy hati2 thd disiplin yang tidak pantas, seperti disiplin yang keluar dari pembalasan dendam, ketidaksabaran, atau kemarahan tak terkendalikan. Dalam hal ini kita akan menterjemahkannya, “ tetapi jangan terbawa ( yaitu., didalam disiplinmu) kematiannya.” Atau, ( b) anak kalimat/ketentuan yang kedua  menyediakan suatu peringatan spy hati2 thd konsekwensi kemurahan hati. Derek Kidner, didalam komentarnya tentang Amsal, memberi Judul ayat ini “ kemurahan yang mematikan.”[7] melalui terjemahan mereka, ASV, KJV, NIV, NASB, dan versi lainnya nampaknya memahami anak kalimat/ketentuan dengan cara ini, meskipun NASB bisa dimengerti dengan penafsiran yang pertama. “ Untuk mengangkat jiwa itu” adalah suatu idiom Ibrani yang berarti, “ kehendak atau menginginkan sesuatu, untuk mendapatkan jantung seseorang atau menginginkan sesuatu.” ( Niv “ jangan jadi bagian dalam kematiannya.” NASB “ jangan menginginkan kematian nya”.)

Anak kalimat/ketentuan yang kedua  menyediakan suatu kontras dengan sebelumnya. Untuk melalaikan disiplin oleh karena suatu ketidakyakinan dalam metoda Tuhan, atau oleh karena tangisan anak, atau oleh karena kemalasan orantua, atau perasaan halus, atau apapun, pada pokoknya untuk menginginkan kematian anak. Kemurahan hati mengijinkan sikap dan pola perilaku untuk tumbuh yang bisa menyebabkan suatu kematian anak oleh karena tidak ada disiplin dan kendali rohani. Jauh lebih baik tangis anak di bawah koreksi sehat dan penuh kasih dibanding orang tua menangis/berteriak di bawah buah pahit kegagalan disiplin ( cf. Prov. 23:13-14).

( 3) Ephesians 6:4 Dan, para bapak, jangan menimbulkan kemarahan anak-anakmu; tetapi didik mereka didalam  disiplin dan instruksi Tuhan.

“ Disiplin” menunjuk secara luas kepada seluruh proses pelatihan, tetapi terutama sekali dalam bentuk disiplin. “ Instruksi” adalah suatu kata yang secara harafiah berarti untuk menaruh perasaan/pengertian didalam pikiran. Itu mengacu pada dorongan dan menenangkan jika itu diperlukan atau nasihat jika itu diperlukan.

( 4) Pepatah 22:6 Didiklah seorang anak didalam jalan/cara yang ia perlu pergi, Bahkan ketika ia tua ia tidak akan meninggalkan jalan itu.

Didalam ayat kecil ini ada suatu perintah untuk ditaati, “ mendidik,” dan suatu janji untuk menjalankannya, “ dan ketika ia tua (dewasa) ia tidak akan meninggalkan itu.” Didalam hal ini kita mempunyai tugaskan dan Janji Tuhan bagi tiap-tiap orangtua. Orang tua harus mengetahui maknanya dan percaya pada  metoda nya . Masalahnya, tentu saja, adalah mengetahui apa maksud ayat itu dan memenuhi perintahnya. Bagi saya makna ayat ini jauh lebih dari apa langsung terlihat dan apapun yang sering pikirkan. Ayat ini tidaklah semata-mata membicarakan penyesuaian berkenaan dengan paksaan orangtua. Itu tidaklah berkata, mengirimkan anak-anakmu ke sekolah Minggu atau menyuruh mereka menghafal Sepuluh Perintah dan Segalanya akan berhasil. Ayat ini lebih dalam dari itu.

Kata “ melatih” adalah kata Ibrani chanak yang, menurut pemakaiannya dalam zaman lampau, mempunyai empat gagasan penting yang mengandung pelajaran pemahaman dan gambaran kandang pelatihan Tuhan. Jelas, konteksnya harus menentukan bagaimana chanak digunakan dalam konteks apapun, tetapi berbagai penggunaan menyediakan beberapa usul dan ilustrasi dari apa yang dilibatkan dalam pelatihan.

Pertama, chanak bisa berarti “ untuk mempunyai dedikasi.” Itu telah digunakan empat lain dalam PL dan pada setiap kasus yang gagasan utamanya adalah untuk melantik/memulai sesuatu  yang melibatkan pengorbanan ( Deut. 20:5 [ dua kali], 1 Raj 8:63; dan 2 Chron. 7:5). Akan lebih banyak dibahas dalam dedikasi orangtua untuk membesarkan anak dalam pemeliharaan dan peringatan Tuhan.

Kedua, gagasan lain didalam chanak adalah “ untuk mencekik, membatasi, atau disiplin.” Dalam kata Arab, seorang bahasa saudara, kata ini digunakan untuk suatu tali dalam mulut kuda, seperti kekang untuk membuat binatang itu tunduk dan bisa dikendalikan. Ini jelas menggambarkan bagaimana pelatihan meliputi penggunaan disiplin, aplikasi dari kendali eksternal, dalam rangka membawa seorang anak di bawah kendali, yang akhirnya dibawah kendali Tuhan.

Ketiga, gagasan lain dalam chanak adalah “ instruksi.” Bagaimana itu mendapat arti ini? Dalam maksud/arti yang paling pokoknya bermaksud/arti “ untuk memulai, start,” atau “ memperkenalkan seseorang kepada sesuatu atau keseseorang.”[8] Dari situ datang gagasan “ untuk melatih” sebab dalam instruksi, kita  sedang memperkenalkan anak-anak kita kepada Tuhan dan kepada FirmanNya dan mulai meletakan mereka didalam jalan Tuhan.

Keempat, gagasan yang lain didalam chanak adalah untuk “ memulai, menciptakan suatu selera.” Sumber ini dari luar PL, hanya sedikitnya melalui ilustrasi itu mempunyai aplikasi kepada proses pelatihan.4 Kata itu benar-benar bermaksud/arti, “ langit-langit mulut, atap mulut.” yang dihubungkan dengan gagasan dasar inisiasi yang merupakan penggunaan kemudiannya dalam kata Arab untuk tindakan suatu bidan yang akan menggosok langit-langit mulut bayi dengan zaitun atau minyak dari biji yang dihancurkan dalam rangka memberi suatu rasa, untuk menciptakan suatu selera dan menyebabkan bayi menyusui. Pasti, salah satu dari ramuan yang perlu dalam pelatihan anak-anak adalah memberi anak-anak suatu rasa keberadaan Tuhan melalui teladan atau contoh orangtua. Kita tidak bisa harapkan anak-anak untuk nyata dengan Tuhan jika kita adalah orang yang palsu. Mereka meniru berdasar pada sikap dan pola kita apakah kita suka atau tidak. Siapa kita adalah hal penting, bahkan menentukan mereka akan menjadi seperti apa.

Prinsip Pemeliharaan

(Mengenal Anakmu)[9]

Dasar Alkitab

Psalm 139:1-6

1  Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; 2  Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. 3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. 4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. 5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. 6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

Konsep pengetahuan anak kita hanya berupa akal sehat, tetapi mempunyai akar  dalam pemeliharaan Bapa surgawi kita. Didalam Mazmur 139:1-6 Daud menemukan keamanan dan kenyamanan besar dalam pengetahuan bahwa kemaha hadiran Tuhan adalah relational, bahwa Tuhan tidak hanya mengetahui tentang dia, tetapi bahwa Ia mengenal dia dengan intim dan mengetahui semua detil dari hidupnya sebagai Seorang yang mengawasi dia, bahkan seperti Orang yang menaruh Tangannya di sekitar hidup David’s ( vs 5). Membaca ini, aku jadi berpikir tentang iklan Allstate , ” Kamu ditangan ahlinya dengan Allstate.” Sebagai jawaban atas kebenaran ini, David berseru, ” .  pengetahuan seperti itu terlalu bagus untuk aku; terlalu tinggi, aku tidak bisa mencapainya” ( NIV). Kenyataan  Tuhan  terlibat dalam hidup  umatnya, Anak-anak rohaninya ( Heb. 12:5-7), adalah di luar pengertian Daud. meski demikian, kebenaran ini memikatnya dan memberi dia kenyamanan besar

Sebagai orangtua surgawi kita, Tuhan terlibat seluruhnya dengan anak-anakNya. Ia mengetahui penipuan kita( Ia yang merancang kita), jalan kita, dan situasi, mental, emosional,  spiritual dan phisik. Ia mengetahui kelemahan kita, kekuatan, pola pikir, alasan, dan kebiasaan. Betapa contoh yang indah  untuk kita sebagai orang tua. Tentu saja, orang tua adalah segalanya kecuali mahatahu, meskipun demikian saya sering berpikir kalau ibu saya mempunyai mata dibelakang  kepalanya. Meskipun demikian, model dari Bapa surgawi  menunjukkan  bagaimana orangtua harus mengamati dan mengenal anak-anak mereka sehingga mereka bisa membedakan kebutuhan phisik, rohani, dan emosional mereka.

Lihat juga Jeremiah 1:5 untuk ilustrasi lain ttg pengetahuan dan keterlibatan pribadi Tuhan dengan umatNya. Kita perlu mencatat komentar Daud dalam ayat 1, ” Kamu sudah mencari aku dan mengenal aku.” ” Yang dicari” Ibraninya  chaqar, ” mencari sampai ketemu suatu pokok atau perihal, menyelidiki, menguji secara menyeluruh.” Pengetahuan adalah hasil pengujian. Karena Tuhan, yang adalah abadi dan mengetahui masa depan seperti halnya sekarang, telah diketahui sejak kekekalan. Bagi orangtua, memerlukan studi saksama untuk mengenal anak-anak mereka, setiap anak, sebagaimana mereka ada. Perhatikan, penekanan dalam seluruh ayat awal ini ada pada  pengujian Tuhan, pengetahuan, dan pengenalan semua detil  hidup Daud.

Seperti Bapa Surgawi menyelidiki kita, demikian juga orang tua harus menyelidiki dan mengenal anak mereka sebaik mungkin. Kenapa? Perhatikan Psalm 139:23-24.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!.

Tujuannya adalah untuk memperhatikan cara menyakitkan dalam rangka membantu seorang anak masuk ke dalam hidup yang kekal, suatu hidup berlimpah-limpah dibumi dengan penghargaan abadi di surga

Saya akan menyarankan dua aplikasi di sini:

Pertama, orang tua harus mengenal anak-anak mereka dengan intim dalam rangka memimpin mereka ke luar dari jalan yang menyakitkan (secara harafiah, ” jalan duka cita”). Ini adalah jalan dari sudut pandang manusia, kejasmanian, ketidak dewasaan, dan dosa, menuju ke dalam jalan  kedewasaan dan pertumbuhan  Alkitab, jalan yang memberi anak itu arti yang benar, kepuasan, dan keamanan dengan hasil abadi.

Kedua, sebagai bagian dari proses pelatihan, anak-anak harus mengenali, menghargai, dan bereaksi terhadap peran orang tua yang diberi Allah untuk menjadi agen perubahan (tidak hanya popok!). Sperti Daud berserah kepada orangtua surgawinya, maka anak-anak harus diajar untuk lakukan yang sama melalui pemahaman dan menghormati peran yang diberikan Tuhan kepada orang tua mereka. Tak seorangpun dapat mengenal seorang anak seperti orangtuanya-jika orangtuanya memperhatikan dan berjalan dekat dengan Tuhan.

Proverbs 20:11-12

Anak-anakpun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. 12 Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN.

Prinsip akal sehat dan pelajaran yang jelas nyata didalam dua  ayat ini  adalah bahwa perilaku seorang anak bisa dipelajari; itu akan mengajar orang tua tentang anak mereka jika mereka mau memberi waktu dan usaha untuk belajar, mengamati, dan lihat apa yang terjadi didalam hidup anak mereka. Tetapi apa yang dicari orangtua? Apa yang bisa mereka harapkan dari anak-anak mereka? Kitab injil menetapkan sejumlah kebenaran yang akan memandu kita, tetapi barangkali tempat untuk mulai adalah ayat dasar, Amsal 22:6

Proverbs 22:6

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Seperti yang telah dicatat, ayat ini adalah suatu kunci seluruh tanggung jawab pelatihan anak, tetapi ada fokus tertentu  di ayat ini yang  menunjukan kalau suatu pelatihan anak dari orangtua harus didasarkan pada pengenalan akan anaknya. Penekanan ini tidak hanya jelas dalam bahasa Inggris seperti dalam teks Ibrani. Seperti dilihat sebelumnya, kata ” melatih,” Ibraninya chanak, mempunyai maksud/arti utama, ” melatih, menginstruksikan, memulai,” dan dapat juga berarti, ” untuk mempunyai dedikasi, mencekik atau disiplin.” Didalam katakerja kita bisa melihat tanggung jawab utamanya. Orang tua ada untuk melatih dan mengajar anak-anak mereka untuk membawa kendali Tuhan ke dalam hidup anak. Dan pasti, karena anak-anak mereka adalah kepercayaan dari Tuhan, mereka harus mendedikasikan anak-anak ini kepada Tuhan dan mempersembahkan diri mereka kepada proses pelatihan.

Tetapi apa yang menjadi standard proses? Perkataan Tuhan adalah standardnya, tentu saja, tetapi ada hal lain yang harus memandu proses itu dan ini dilihat dalam, ” dalam jalan yang ia harus pergi.” Teks Ibrani lebih kuat dari itu dan secara literal, ” menurut ukuran jalannya.” ” Sesuai dengan,” Ibraninya ‘ al pi, secara harafiah menurut mulut. Ini membawa gagasan ” menurut perintah, bukti atau kalimat, atau menurut ukuran.” [10] Kata depan ‘ Al menandakan norma, standard, atau aturan dengan mana sesuatu diharapkan untuk yang diselesaikan. Pi Kata bendanya pe, ” mulut, pembukaan.” Karena mulut atau lobang bidik kamera ukurannya beragam, mengembangkan konsep “ukuran” atau “porsi.” Dengan pemikiran ini, pe sering digunakan di kata depan yang berarti ” sebanding dengan.” Seorang anak kecil secara normal mempunyai mulut jauh lebih kecil dibanding orang dewasa dan tidak bisa menerima sama  besar seperti  orang dewasa. Prinsip di sini mestinya sudah jelas. Pelatihan harus dilaksanakan menurut ukuran, kapasitas, atau kemampuan. Tetapi apa itu? Itu ditunjukkan dengan kata-kata “jalannya.”

Teks Ibrani mempunyai kataganti orang berkait dengan kata benda “jalan.” Itu dibaca, “jalannya” dan tidak hanya ” didalam jalan yang ia perlu pergi.” “Jalan” Ibraninya derek, ” jalan, perjalanan, cara.” Itu digunakan untuk ( 1) suatu jalan, alur, perjalanan, tindakan, ( 2) gaya, kebiasaan, cara sebagai kondisi atau pengalaman biasa, dan ( 3) tentang tugas dan tindakan moral dan karakter baik dan jahat. [11] Dari pengenalan Alkitab dan  dari pengenalan anak-anak, kita mengetahui berbagai hal  tentang jalan mereka. pertama, kita mengetahui bahwa Tuhan, di dalam Kedaulatannya, mempunyai suatu rencana, suatu jalan yang dia ingin setiap anak mengikutinya. kedua, kita mengetahui bahwa tiap-tiap anak mempunyai suatu keadaan spesifik sebagai suatu individu dengan kemampuan tertentu, bakat, dan kecenderungan tertentu. Derek dari katakerja darak, “untuk menginjak, berbaris,” tetapi sering digunakan secara metafora meluncurkan sesuatu seperti melentur busur dalam rangka meluncurkan panah, atau suatu sergapan, atau pidato pahit, atau pertimbangan suatu arah tertentu ( cf. P. 7:13; La. 2:4; 3:12; P. 57:7; 64:3; 1 Chron. 5:18; 8:40; Isa. 21:15). Walau derek tidak mempunyai maksud/arti spesifik, penggunaan format katakerja menyediakan kita ilustrasi menarik yang mengenai sifat alami anak-anak menurut faktor warisan dan sebagaimana Tuhan telah merancang mereka.

Dengan hal ini, mari kita melihat beberapa pemikiran kunci dalam melatih anak menurut jalannya:

(1) Orang tua harus mengenal anak-anak mereka sebagai individu yang unik. Untuk melakukan ini, mereka harus dengan berdoa mengamati, belajar, dan mengenali karakteristik individu ( atau kebengkokan) dari tiap anak-anak mereka dan melatih mereka dengan tepat.

(2) Orang tua jangan pernah berpikir kalau seorang anak mendapatkan banyak pelatihan Alkitab atau pergi ke gereja sudah cukup. Pengajaran Alkitab, gereja, dan tumbuh dewasa dalam pengajaran Alkitab dirumah merupakan semua hal penting dan bagian penting dari proses, tetapi masing-masing anak perlu untuk diperlakukan sebagai individu unik dan tidak boleh langsung percaya. Orang tua harus mengambil catatan khusus dari apa yang sedang terjadi pada setiap respon anak, kelemahan, kebiasaan, sikap, dan lain lain. Lingkungan yang sama tidak berarti bahwa masing-masing anak akan menjawab dengan cara yang sama. Suatu pendekatan yang sama tidak akan berhasil. Beberapa ilustrasi Alkitab tentang respon akan yang berbeda terhadap pengajaran dan lingkungan yang sama di dalam keluarga yang sama adalah Cain dan Abel, Jacob dan Esau, dan Absolom dan Solomon.

(3) Orang tua jangan pernah mencoba untuk memaksa anak-anak mereka ke dalam jalan yang mereka sendiri. Maksud saya orang tua sering mencoba untuk memaksakan seorang anak ke dalam cetakan cita-cita mereka. Ini tak lain suatu usaha orantua, melalui pencapaian anak mereka, untuk mendapat pujian atau apapun juga yang mereka butuhkan, tetapi tidak pernah menerimanya. Sebagai contoh, suatu orangtua mungkin punya suatu mimpi melihat anak mereka menjadi seniman atau atlit besar dan melakukan segalanya untuk menggerakkan dan mendorong anak mereka kearah itu walau itu sama sekali tidak sesuai dengan bakat, kemampuan, atau keinginan anak itu sendiri- Membiarkan kehendak Tuhan jadi atas anak itu.

(4) Suatu busur dibuat oleh perancangnya untuk menekuk satu arah, sesuai caranya. Kita lihat bahwa format katakerja “jalan” digunakan suatu busur untuk meluncurkan sesuatu. Jika orang yang menggunakan busur itu tidak tahu cara busur dibengkokkan dan mencoba untuk menekuknya dengan cara yang berbeda, ia tidak akan hanya menghadapi suatu tugas sulit, tetapi ia bisa merusak busur itu. seperti juga, orang tua harus mengenali cara anak mereka dibengkokkan, baik melalui cara Tuhan yang telah merancang mereka dan cara dosa yang telah mempengaruhi mereka. Jika orangtua gagal untuk mengenali ini, mereka gagal membantu menempatkan anak mereka dalam rencana Tuhan bagi hidup mereka. Ini menyatakan bahwa anak-anak tidak seperti potongan tanah liat lembut yang bisa dibentuk sesuka orangtua. Melainkan, mereka adalah individu unik dengan suatu jalan telah ditetapkan dan perlu diketahui, diakui, dan dihadapkan dengan kebenaran Alkitab dan suatu pengamatan saksama dari orangtua.

Doktrin Manusia

Jika orang tua mau mengajar anak-anak mereka menurut Alkitab, percaya itu adalah Firman Tuhan, maka mereka harus pula mengetahui dan menerima apa yang diajarkan Alkitab tentang nature dan penciptaan manusia. Ini adalah suatu dasar yang perlu dan pemandu untuk apa yang harus harapkan dari seorang anak. Manusia modern katakan bahwa orang-orang pada dasarnya baik, dan permasalahan kita bersumber terutama dari lingkungan kita. Jika kita menyapu bersih lingkungan itu maka anak-anak akan jadi bagus. Isolasikan dan tempatkan anak-anak didalam suatu lingkungan sempurna dimana permasalahan nyaris menghilang lenyap. Tak seorangpun menyangkal bahwa lingkungan akan mempengaruhi karakter seorang anak secara negatif atau secara positif. Tentu saja, itulah mengapa Alkitab menempatkan penekanan yang kuat seperti itu pada keluarga dan pemeliharaan anak-anak. Tetapi Alkitab mengajar kita bahwa inti atau permasalahan dalam perilaku penuh dosa didalam anak-anak dan jalan yang mereka hasilkan ada diluar lingkungan. Permasalahannya adalah dosa. Meskipun diciptakan dalam gambaran Tuhan dan tanpa dosa, Adam berdosa dan ras kita jatuh. Alkitab mengajar kita:

(1) Adam’s dosa diteruskan turun temurun. Dalam Kejadian 5:1 kita diberitahu kalau Adam diciptakan serupa dengan Tuhan. Dengan suatu kepribadian ( kesadaran diri, akal, kemauan, dan emosi) manusia diciptakan segambar dengan Allah. Akan tetapi didalam ayat 3 kita lihat bahwa Adam mempunyai seorang putra yang serupa dengannya, menurut gambarannya. Dalam kaitan dengan kejatuhan ini tidak hanya termasuk phisik, mental, dan faktor emosional turunan, tetapi juga suatu nature penuh dosa atau bengkok kearah kejahatan, suatu natur yang didefinisikan Alkitab sebagai kejahatan yang tidak bisa disembuhkan, menipu, dan apa yang hanya dapat diketahui Allah ( cf. J. 17:9; Rom. 5:12; 7:17-18). Jika kita adalah untuk sungguh-sungguh mengenal diri kita dan anak-anak kita/kami, kita harus mengetahui apa yang  dinyatakan Tuhan tentang hati manusia menurut FirmanNya.

Jeremiah 17:9 berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Walau nature berdosa ( di sini disebut hati) dapat dikendalikan oleh anugrah keselamatan Tuhan dan persucian didalam Kristus, itu tidak bisa dibasmi, dipindahkan, diubah atau diselamatkan. Jika, seperti kata Jeremiah dalam ayat 5-8, jalan berkat dan kutuk menjadi sangat jelas dan berbeda, mengapa seseorang memilih jalan berdosa? Jawaban sederhana. Sebab akar yang menyebabkan manusia memilih jalan dosa dan terkutuk ada dalam hati manusia—nature berdosanya. Tetapi darimana kondisi penuh dosa ini datang?

(2) Setiap anak mewarisi nature dosa dari orangtuanya. Daud menulis, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” ( P. 51:5, NIV). Daud baru saja mengaku dosanya dalam Mazmur ini dan mengakui bahwa ia tidak bisa menyalahkan lingkungan atau keadaan. Ia adalah orang yang berdosa dan sudah begitu sejak lahir. Maksud Daud ia telah dilahirkan dalam keadaan berdosa, orang berdosa dengan natur dosa, dengan kecenderungan berbuat dosa.

 (3) Bahkan anak kecil juga berdosa. Lalu apa yang orangtua harapkan? “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat” ( P. 58:3, NIV). Mengapa? Sebab anak telah melakukan dosa? Tidak! Seorang anak berdosa sebab didalam anak tidak bersalah ada kecenderungan alami ke arah kejahatan seperti menceritakan kepalsuan untuk melindungi dirinya dari konsekwensi perilaku tidak baik.

 

(4) Seorang anak yang dibiarkan akan membawa aib kepada orangtuanya. Apa sebabnya seorang anak yang tak berdisiplin, terbiar, membawa aib bagi orangtua ( Prov. 29:15)? Sebab, sungguhpun anak-anak kecil ada didalam satu pengertian tidak bersalah, ada suatu prinsip berdosa yang sedang bekerja yang menggerakan mereka ke arah perilaku berdosa dan egois. Maka anak-anak harus diajar untuk tidak berdusta atau mencuri. Mereka harus diajar untuk menjadi tak egois, untuk mencintai dan menghormati orang lain, dan untuk menghormati otoritas.

Dua Sisi Koin

 

Untuk mengajar seorang anak menurut jalannya orang tua harus mengetahui dan percaya bahwa tiap-tiap anak dilahirkan dengan dua kecenderungan, kecenderungan kearah kejahatan ( kecenderungan suka menentang) dan kecenderungan kearah baik ( yang dapat digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan berkat bagi yang lain).

Kecenderungan Kearah Kejahatan

(1) Kecenderungan umum atau warisan dosa. Dari orangtua awal, Adam, semua anak-anak menerima nature berdosa. Untuk mengajar anak-anak berarti orangtua tidak akan dikejutkan tetapi sadar akan kecenderungan pemberontakan ini dan keinginan diri sendiri yang merugikan orang lain.

 

Mengerti ini bisa membantu orang tua menjadi lebih sabar dan lebih sedikit frustrasi ketika malaikat kecil mereka menunjukkan kecenderungan suka menentang atau menyimpan mengejar keinginan diri sendiri. Kita mengetahui kalau manusia kecil ini juga mengalami pertempuran dengan nature berdosa mereka seperti halnya kita. Betapapun, mereka mirip orangtuanya! Pengetahuan dan Pemahaman tentang hal ini akan membantu kesabaran dan pengertian kita, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan dan mengabaikan sikap atau perilaku tidak baik. Pemahaman tentang kecenderungan ini menolong orangtua menyadari bahwa hanya dengan menceritakan  kepada anak apa yang diharapkan tidaklah menyelesaikan masalah. Anak mungkin ingin melakukan apa yang benar, tapi karena nature berdosa, kelemahan, ketidak-tahuan rohani, dan pergumulan dalam dirinya, ia memerlukan bantuan yang khusus, pelatihan, dan disiplin yang disediakan oleh orangtua. Karena prinsip keberdosaan ini tidak bisa dibasmi atau sungguh-sungguh diubah dan akan bersama dengan anak seumur hidup, orangtua harus berkomitmen untuk memindahkan anak dari kendali eksternal ( hukum) ke pengawasan intern ( anugrah) sehingga anak belajar untuk hidup dari  kesaksian imannya dan hubungan akrab dengan Tuhan melalui Kristus.

(2) Kelemahan Karakter atau Kecenderungan spesifik. Setiap anak mempunyai kecenderungan spesifik atau kecenderungan ke arah perilaku penuh dosa dari keluarganya melalui keturunan ( genetically) dan dari faktor lingkungan ( kondisi-kondisi di rumah dan masyarakat). Dan tiap-tiap anak berespon dengan cara yang berbeda terhadap lingkungan mereka. Yang pasti, seringkali sukar untuk mengetahui di mana akhir factor keturunan dan awal factor lingkungan, tetapi satu hal sudah pasti, atmospir di mana seorang anak dibesarkan sangat mempengaruhi kecenderungan hereditas itu.

Walau masing-masing anak mempunyai kecenderungan berdosa, masing-masing anak sangat berbeda dalam menyatakan hal itu. Ini memerlukan pengetahuan dan pengamatan saksama dari tiap anak. Satu anak mungkin mempertunjukkan kecenderungan rendah diri atau perasaan tidak mampu, sedang anak lain dalam keluarga yang sama dapat percaya diri dan berpikir ia dapat melakukan apapun dan lebih baik daripada orang lain. Keduanya memerlukan kasih karunia yang sama, tetapi dalam arah yang berbeda. Seseorang harus mempunyai kepercayaan dalam Tuhan, apa bisa Dia lakukan melalui dan dengan mereka. Kebutuhan lain adalah suatu pemahaman tentang anugrah Tuhan yang akan membantu ke arah kerendahan hati dan pada waktu yang sama memberi harapan yang berpusat pada Tuhan.

Abraham dan keturunannya menyediakan kita ilustrasi yang baik bagaimana lingkungan, barangkali dikombinasikan dengan jenis tempramen, dapat mendorong atau merintangi godaan dosa. Dalam rangka melindungi dirinya, Abraham cenderung untuk berdusta. Lebih dari satu kali ia berbohong tentang isterinya Sarah. Dia adalah perempuan yang sangat indah dan takut raja daerah itu akan membunuh dia dalam rangka mengambil Sarah, ia mengklaim dia adalah saudarinya. Saya merasa pasti ia membenarkan ini dalam pikirannya sebab dia adalah saudari tirinya( cf. Kejadian. 12 dan 20). Dengan jelas ciri karakter ini terbawa keputranya, karena dalam Kejadian 26 kita temukan Isaac melakukan dengan tepat hal yang sama untuk melindungi dirinya dari Abimelech

Kecenderungan Kearah Kebaikan

(1) Dari Kelahiran Phisik. Alkitab mengajar kita bahwa Tuhan terlibat dengan anak-anak sejak kelahirannya ( Ia yang membuka dan menutup kandungan ) melalui keseluruhan proses pembentukan anak didalam kandungan  ibunya  sampai kepada kelahirannya ( cf. Kej. 4:1; 15:3; 16:2; 20:17-18; 29:31; 30:22; P. 113:9; 127:3-5; 139:13-16; J. 1:5; Prov. 16:4). Seorang anak, kemudian, mestinya tidak saja dipandang sebagai suatu kunjungan dari Tuhan, tetapi sebagai kepercayaan khusus yang diberikan Tuhan. Melalui setiap karya Tuhan, tiap-tiap anak diciptakan oleh kehendak Tuhan dan keterlibatan pribadi dengan bakat spesifik, kecenderungan, kapasitas atau kemampuan phisik, dan artistik. Ini diberikan kedalam anak dari kedaulatan pemeliharaan Tuhan. Dalam Yohanes 9:1-12 orang yang dilahirkan buta, termasuk cacat kelahiran, meskipun ini niscaya dapat terjadi sebagai hasil kejatuhan dan dosa-dunia yang terkutuk. Kita bisa melihat ini dalam masyarakat kita oleh karena alkohol dan obat/racun berhubungan erat dengan cacat kelahiran. Walaupun demikian, kita tidak pernah berpikir Tuhan tidaklah secara berdaulat terlibat. Pertimbangkan yang berikut:

Dengan masyarakat kita yang tergantung pada pemikiran manusia bukannya otoritas Alkitab dan dengan etika situasi yang sekarang diajar banyak sekolah, banyak orang hari ini mendekati hidup dan berbagai kesulitannya seperti memandang cacat kelahiran dari sudut pandang manusia bukannya dengan sudut pandang Alkitab. Seorang guru yang ingin menggambarkan kekurangan pemikiran manusia situasi seperti ini kepada suatu kelas

Bagaimana kamu akan menasehati seorang ibu hamil berdasarkan fakta berikut.

Suaminya menderita sipilis. Dia menderita TBC. Anak pertama mereka dilahirkan buta. Anak kedua mereka meninggal. Anak ketiga mereka dilahirkan tuli. Anak keempat mereka menderita TBC.

Ibu itu sedang mempertimbangkan pengguguran. Akan kamu menasehatinya untuk mengandung lagi?

Mengingat fakta ini, kebanyakan dari para siswa menyetujui bahwa dia perlu melakukan pengguguran.

Guru itu kemudian mengumumkan, “ Jika kamu berkata ‘ Ya’ kamu baru saja membunuh penggubah musik yang besar Ludwig von Beethoven!”

Maka penting bagi orang tua untuk bersandar pada pengawasan kedaulatan Tuhan dalam hubungan dengan anak-anak mereka dan belajar serta mengetahui anak-anak mereka dalam rangka mengenali kemampuan mereka, karunia, kebutuhan, dan kecenderungannya yang ditentukan oleh Allah dalam rangka membantu mengembangkan bakat mereka, karunia, dan kemampuan alami, atau untuk mengalahkan ketidak-mampuan atau kelemahan (melihat masalahnya) sehingga Tuhan bisa dimuliakan melalui hidup anak itu.

(2) Dari Kelahiran Rohani. Tujuan terbesar yang harus dimiliki Orang tua Kristen untuk anak-anak mereka adalah membawa anak mereka percaya Kristus. Percaya Kristus mendatangkan kelahiran yang baru, dilahirkan ke dalam keluarga Tuhan dan ditempatkan kedalam tubuh Kristus sebagai anggota dengan karunia rohani tertentu dan suatu tujuan khusus didalam rencana Tuhan ( cf. 1 Cor. 12:11ff; Eph. 2:10; 1 Pet. 4:10). Ini adalah suatu area penting untuk diperhatikan dan dijaga orangtua. Anak-Anak perlu diamati untuk indikasi kecenderungan rohani mereka, karunia, minat, dan karya Tuhan dalam hidup mereka dan kemudian memelihara mereka. Kecenderungan melalaikan area ini untuk pengejaran hal lain atau untuk pergi ke ekstrim lain dan mencoba untuk memaksa itu. Saya sudah melihat orang tua yang ingin pergi ke bidang misi, tetapi tidak pernah melakukannya. Sebagai hasilnya mereka mencoba untuk memaksa anak-anak mereka ke dalam misi dan ini mendorong pemberontakan atau kepada suatu area di mana mereka tidaklah cocok. Pekerjaan orang tua adalah untuk menyediakan pemeliharaan dan konteks rohani yang mengarahkan hati anak kearah Tuhan sehingga Ia mempunyai kebebasan untuk memimpin mereka menurut Kehendaknya. Setelah memberi anak-anak mereka kepada Tuhan, orang tua hanya perlu melihat anak-anak mereka mengetahui, mencintai, dan mengikuti Tuhan di mana saja Ia pimpin.

Suatu ilustrasi baik dari apa yang orang tua mestinya tidak lakukan dapat ditemukan dalam hidup Jacob dan Esau. Dua saudara laki-laki ini adalah kembar, tetapi mereka jauh dari serupa. Kej 25:27-28 mengambarkan tentang mereka dan pilih kasih yang ia tunjukkan, “Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.” Esau adalah orang yang suka diluar, yang berbeda dengan Isaac, tetapi terutama sekali ia mencintai permainan liar. Esau adalah kesayangan Isaac, dan untuk semua hal ia mungkin sedikit perhatian ke Jacob. Sebagai anak pertama, Esau mempunyai hak dan tanggung-jawab mencakup berkat phisik dan rohani, tetapi ia sedikit menghargai hak waris keturunannya yang akan secepatnya menjadi milik Yakub berdasarkan atas janji Tuhan ( lihat Kej. 25:22-23). Esau, dengan kecenderungannya, lebih memperhatikan hal diluar rumah dan berbagai hal material, dan menunjukkan sedikit perhatian dalam berkat rohani yang adalah miliknya sebagai anak pertama yang bertanggung jawab untuk mengabadikan perjanjian Abraham (yang mencakup janji Messianic). Isaac, akan jadi pelayan Esau, pasti telah mengetahui hal ini seharusnya bertindak untuk memberi perhatian rohani pada Esau, tetapi ia gagal untuk melakukannya.

Jacob pada sisi lain adalah orang suka tinggal di rumah, tetapi ia juga berminat pada berbagai hal rohani. Jelas, ia memperoleh inspirasinya dari Rebekah, yang bukannya bersandar padan janji Tuhan, melakukan apapun bagi putra kesayangannya. Isaac tidak tertarik atau terlalu lemah untuk mengikuti perkembangan curang Jacob dan Rebekah.

Dalam ilustrasi ini ada dua saudara laki-laki yang dibesarkan dalam satu keluarga dengan kecenderungan yang berbeda. Kita juga mempunyai ibu dan bapak yang gagal untuk bekerjasama dalam mengetahui anak-anak mereka agar mereka bisa menghadapi anak-anak dengan tepat. Sebagai gantinya, perbedaan itu menjadi suatu sumber pilih kasih pribadi yang hanya menciptakan permasalahan lebih besar didalam rumah dan menyebabkan makin kuatnya perselisihan. Ironisnya, Isaac berdoa tentang perihal dua anak-anak yang berjuang dalam kandungan Rebeka dan pada waktu itu menerima pernyataan dari Tuhan. Bagaimanapun, nampak ia gagal berdoa setelah mereka dilahirkan sehingga perbedaan menjadi jelas dan pergumulan makin kuat.

Prinsip untuk Orang tua

(1) Meskipun mereka harus diberi peluang sama, anak-anak tidak diciptakan sama. Anak-Anak didalam keluarga yang sama sering sangat berbeda seperti Esau dan Jacob. Mereka mempunyai bakat berbeda, kecenderungan, kapasitas dan kemampuan berpikir, secara phisik, artistik, dan secara emosional. Orang tua perlu, oleh karena itu, mempelajari anak-anak mereka untuk mengamati kemampuan dan kecenderungan khusus mereka dan mendorongnya dengan peluang dan motivasi rohani yang sesuai untuk menemukan kemampuan dan kecenderungan itu dan kemudian membantu anak mereka mengembangkannya menurut kehendak Tuhan dengan alasan dan tujuan yang benar. Anak-Anak perlu untuk termotivasi, layaknya, untuk menjadi yang terbaik didalam bakat dan kemampuan pemberian Tuhan. Tetapi tidak setiap anak ‘berbakat,’ maksudnya orang tua mestinya tidak menaruh anak-anak di bawah tekanan emosional, berusaha untuk membuat mereka menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Pada sisi lain, beberapa anak-anak memang berbakat di banyak area dan bisa mengejar banyak hal dengan sukses. Jadi orang tua harus mengawasi kecenderungan atau kecenderungan khusus.

Sepanjang masa remaja, orang muda cenderung untuk ingin dilibatkan dalam segala hal, tetapi itu sangat tidak bijak karena remaja dan seluruh keluarga akan kelelahan untuk menyesuaikan diri dengan jadwal yang ada. Suatu pendekatan lebih bijaksana adalah membantu mereka membuat prioritas berdasar pada kemampuan, keinginan, dan kecenderungan mereka. Ingat, seseorang dapat jadi‘ Orang serba tahu, tapi tidak menguasai apapun.’ Ini juga sangat menolong untuk ingat bagaimana anak belasan tahun dapat berubah total seperti minat mereka. Ini adalah bagian dari proses tumbuh dewasa. Sekali aktivitas atau proyek dimulai, sebaiknya dorong anak itu untuk setia kepada hal itu, sedikitnya sampai pekerjaan diselesaikan atau sampai mereka sudah mengembangkan keahliannya. Ini akan memenuhi dua hal: ( a) Itu akan menghalangi mereka menjadi orang yang menunjukkan gairah besar untuk memulai satu proyek keproyek lain, tetapi tidak pernah menyelesaikan apapun. ( b) Itu juga memberi mereka waktu untuk menemukan apakah mereka benar-benar menyukainya dan jika mereka mempunyai bakat atau kemampuan untuk mengejar itu, sedikitnya dalam hidupnya nanti.

(2) Tuhan adalah Pengarang bakat. Orang tua harus bijaksana untuk mengenali dan menyediakan peluang untuk anak-anak mereka sehingga mereka dapat mngembangkan bakat mereka. Sesungguhnya, kegagalan untuk melakukannya dapat menciptakan permasalahan disiplin. Orang tua jangan pernah mencoba untuk membuat satu anak seperti yang lain, atau memberi kesan seseorang lebih penting dibanding yang lain, atau bahwa kamu menghargai bakat satu dibanding yang lain. Masing-Masing anak harus mengetahui kalau dia istimewa dalam rencana Tuhan dan dicintai, dihargai, tidak berdasar karunia, bakat atau wajahnya.

Prinsip Alami

Pusat Pelatihan

Perenungan

Konklusi



[1] Francis A. Schaeffer, How Should We Then Live? The Rise and Decline of Western Thought and Culture, Fleming H. Revell, Old Tappan, New Jersey, 1976, p. 19.

[2] Jack Fennema, Nurturing Children in the Lord, Presbyterian and Reformed Publishing, Phillipsburg, NJ, 1978, p. 126.

[3] The focus on the mother in the last part is probably a rhetorical variation for the parent (see 17:21; 23:24-25) and is not meant to assume that she will do the training. See also 13:24 and 23:13 (The Expositor’s Bible Commentary, OT, Frank E. Gaebelein, General Editor, electronic media).

[4] Roy Lessin, How to be Parents of Happy and Obedient Children, Omega Publications, Medford, OR, 1978, p. 81, quoting Charles R. Swindoll in, You and Your Child.

[5] Lessin, pp. 55-56.

[6] Theological Word Book of the Old Testament, R. Laird Harris, editor, Gleason L. Archer and Jr. Bruce K. Waltke, associate editors, Vol. I, Moody Press, Chicago, 1980, p. 387.

[7] Derek Kidner, Proverbs: An Introduction and Commentary, The Tyndale Old Testament Commentaries, Tyndale Press, London, 1964, p. 134.

[8] Theological Word Book of the Old Testament, Vol. I, p. 301.

[9] For some of the ideas expressed in this section of the study, I am indebted to Joe Temple whom I heard teach on this subject by tape many years ago. He was at that time pastoring a Bible teaching church in Abilene, Texas. Since that time, a book has been compiled from this series entitled Know Your Child, Baker Book House, Grand Rapids, 1974.

[10] Richard Whitaker, Editor, The Abridged Brown-Driver-Briggs Hebrew-English Lexicon of the Old Testament, Logos Research Systems, Oak Harbor, WA, 1997, electronic media.

[11] Brown, Driver, and Briggs, pp. 202-203.